Semuanya terjadi begitu saja. . . .
Ketika mereka melihat orang, ketika mereka melihat matahari, ketika mereka memandang bulan, dan ketika mereka memandangi seruan mahluk. Mereka hanya diam begitu saja... Daun-daun sekitar mulai berterbangan, sampah-sampah mulai memunah, sahutan pagi pun kini mulai tidak terdengar lagi. Mereka hanya bisa mengeluh atas semua yang dialaminya. Namun,, mengapa terikan doa terus terpancar dari mulut sang bunda???. Apakah sang bunda ingin mereka sembuh ataukah hanya ingin menghilangkan desar-desir hatinya???.
Dan bagaimanakah perasaan mereka yang ingin menghilangkan rasa sakit dan sedih???. Aku memanggil ombak, ku bacakan puisi di depannya. Tapi ombak hanya bisa menatapku tajam. Ku nyanyikan secarik laguku di tepi lereng. Tapi lereng hanya menghembuskan sesepoi angin. Mereka hanya meratapi penyakit yang merenggut. Arti senyuman dari hati yang membuat mereka senang, belaihan sang bunda yang membuat mereka kokoh.
Mereka berpintah,seandainya ada secerca harapan yang melintang agar ajal yang mungkin terjadi dan akan berubah menjadi sebuah cahaya bintang yang membuat mereka tak akan takut lagi akan kehidupan. Ketika ku melihat mereka, hempusan nafas mulai menggebu, denyut nadi mulai berdetak cepat. Sahut-sahut angin mengiringi, mereka mengira bahwa aku akan menolongnya. Tapi,,,apa yang bisa aku lakukan untuk mereka???.
Sang malam telah menghilang, kini berganti dengan mentari. Dayu-dayu kapal mulai terhenti, nelayan malam kini telah kembali. Berganti dengan dengung-dengung kendaraan yang terdengar ramai. Para kawan berangkat tuk mencari ilmu. Mereka hanya dapat menikmatinya dari selubang candela yang ada. Rasa hidup mulai dirasakan. Tangan mereka mulai melantunkan doa, hati mereka mulai terseduh, dan mulut mereka mulai bergetaran. Letak mentari semakin tinggi, semakin tinggi pula tubuh mereka tuk melawan derita itu. Senja kini telah memancarkan cahaya kuning kemerah-merahannya, panggilan Allah telah berkumandang.
Semua urusan duniawi talah terlupakan sejenak, segumpal air untuk mensucikan diri menghadap Sang Pencipta. Lampu warna-warni mulai menyala, keramaian malam akan segera dimulai. Mereka hanya dapat menikmatinya dalam rengkuhan obat dan kasih sayang keluarga. Malam menentang keberadaan kapal, ia merelakan itu tanpa rasa sesal. Seperti tubuh-tubuh ajaib yang ditempah malam dan angin. Mereka keluar untuk sebentar, wajah dan bahunya tersengat bulan. Sambil mengejutkan nyamuk-nyamuk di lengan. Tengah hari makin cemerlang seperti gelora berani. Gemerlap bertaburan di langit berjuta angan seseorang. Debu-debu kini berganti dengan semilir angin, ucapan dari sang burung kini berganti dengan teriakan jangkrik. Semakin malam bertambahnya kesepihan, dan kegelisahan memeluk nestapa.
Pukul 12 malam telah terlewati, bertanda gantinya hari yang menunggu jawab. Kesadaran akan menjelang pagi. Matahari seakan-akan mengintip dari ufuk timur, seolah terbangun dari tidur yang lelap. Lambaian kabut menari-nari di puncak tinggi. Sebuah keinginan ikut terbang bersama mimpi malam. Aku segera pergi untuk berjumpa mereka. Menatap mata mereka adalah anugerah. Mendekat mereka adalah harapan. Memegang tangan mereka adalah kejutan. Jauh dari mereka adalah khayalan. Tak ada sapa dari mereka adalah ratapan. Hentinya getaran mulut adalah kepayahan.
Keinginan mereka tuk berilmu itu hal yang indah. Tapi, mengapa banyak temannya yang menyia-nyiakan hal itu. Menurut mereka dapat berilmu adalah keajaiban dari Tuhan. Mereka mengira orang berilmu adalah keistimewaan. Cita-cita mereka ingin menjadi seorang guru.
Kemudian aku bertanya,” Mengapa???...”
“Mengapa kalian tidak ingin menjadi dokter, yang bisa menyembuhkan penyakit yang kalian derita ???.”
Mereka menjawab, “ karena dokter tidak bisa menjadi guru, dan guru bisa menjadi apapun …. !!!.
Dan itulah jawaban terindah yang pernah aku dengarkan. Begitu mulia keinginan mereka, yang mungkin tidak akan terkabulkan.
Begitu memiluhnya derita mereka. Aku tak sanggup membayangkannya lebih dalam lagi. Aku tak tega tuk melihat mereka berhenti tuk berharap akan sebuah keajaiban yang mungkin akan datang menbawa mereka akan hidup dengan kesembuhan dan kepercayaan yang abadi.
Beribu-ribu obat dan cairan suntikan telah masuk ke tubuh mereka. Berkali-kali doa terungkapkan sudah. Namun semua itu terlampaui begitu saja. Mereka hanya dapat meminta, tapi tidak dapat menggerakan pintahnya. Hamparan pasir putih di laut makin menghitam. Karang di lautan makin mengikis. Ikan termora makin mengecil. Begitu pula hancurnya hati mereka, bila tidak ada kesempatan tuk hidup lebih lama, dan bermanfaat bagi banyak orang. Senyuman kecil dari mulut yang membuat kami kuat. Deringan kata yang membuat kami bimbang. Karena kami sesungguhnya tidak mengerti apa yang dilakukan dan dirasakan mereka saat itu.
Suatu ketika harapan sembuh itu menghampiri. Karena sesosok dermawan kiriman dari Tuhan memberikan segumpal cahaya, ya. . . mungkin dapat memperlambat ajal yang akan menjemput mereka. Dermawan itu mengajak mereka untuk berobat ke Negeri Tirai Bambu. Karena di sana pengobatannya lebih dari di sini. Mereka sangat bersyukur sebab masih ada seorang yang ingin membantu mereka.
Waktu satu minggu untuk mempersiapkan kepergian mereka meninggalkan kita. Tangisan haru dari sang kawan mengikuti kepergian mereka tuk berobat. 7 tahun sudah mereka meninggalkan sekolah, selama itu pula mereka berlenggut dengan penyakit dan obat. Begitu banyak orang yang mengantarkan mereka samapi bandara.
“ Semoga kalian cepat sembuh, ya..!!!” kata sang kawan
Mereka hanya dapat tersenyum dan berharap aka nada kesembuhan setelah pulang dari sana.
Sang bund pun menangis di samping mereka sambil memegangi tangannya.
“ Jangan sedih bu,,,!!!” kata seorang perawat yang ikut mendampingi mereka dalam pesawat.
Kedipan mata dari mereka seolah ingin mengatakan sesuatu pada sang ibu. San ibu pun hanya dapat menitihkan air mata yang terus ajtuh ke pipinya. Merasa dedekan di hatiku, mungkinkah mereka dapat sembuh???. Aku tak tau…
Langkah pesawat yang mereka naiki terus menjauhi dari negeri kelahiran mereka. Namun, bau obat masih terasa di bandara. Sang kawan pergi meninggalkan bandara, dan aku pergi berlari tuk membuang semua kesedihan yang ada.
Bersama sang fajar ku ungkapkan semua. Bersama sang rembulan ku sampaikan anganku semua. Bersama angin ku bawakan doaku untuk mereka. Bersama awan ku taruh sejuta harapku.
Sang bunda telah mengabari aku, bahwa mereka telah tiba di sana. Melihat Negara maju mereka memukau, jalannya mahluk Tuhan mereka berdesah. Hanya harapan yang terakhir mereka panjatkan, SEMBUH….
Penobatan dan operasi pertama telah di lalui,,,
Musim gugur menjelang, gugurnya daun dari tangkainya tak membuat mereka menundukkan kepala. Gugurnya bunga dari kelopak tak membuat mereka mengusap tetesan keringat. Helai daun yang jatuh di ujung jendela mereka ambil,,,
Layunya daun ibarat badan mereka. Kokohnya batang ibarat doa mereka. Retaknya rantai pohon ibarat sedih mereka. Tetesan getah pohon ibarat rintihan mereka. Akar yang masih menancap ibarat kemauan untuk sembuh.
Sang fajar mulai berganti hening. Keramaian negara orang memulai. Hentak-hentak lirik terdengar kencang. Goresan jalan menjadi saksi mereka di sana. Suasana berbeda mereka hinggapi. Perbedaan adat yang tak berpengaruh pada mereka.
Berterbangan daun menggelumuti kota. Kedipan mata arti hidup bagi mereka. Begitu banyak orang di sana membantu mereka. Kata semangat tertelan sangat banyak. Bukti rasa terasa mendalam. Kecupan manis teruntai di pipi mereka. Lirik-lirik nada rintian mengiringi tidur mereka.
Pengobatan dan operasi ke 2 terlewati,,,
Deruh salju turun menyampaikan pesan. Semua seakan berubah putih. Dingin kini menyelimuti tubuh. Penghangat mulai datang ke tempat mereka. Mantel biru dan sarung tangan abu-abu dipakai mereka untuk keluar melihat bulatan salju yang turun.
Kata mereka. “Kursi roda ini penompang tubuhku, kaki ini untuk menguatkan aku, tangan ini tempat curahan ku, bibir ini keluh kesah ku, mata ini kedipan hidupku, pipi ini nada bahasa ku, dan hati ini tempat bertahan ku…”
Itulah kehidupan mereka pada saat ini,,
Selama 3½ tahun mereka berada di Negara orang. Selama itu juga mereka melakukan berbagai keluh kesah. 11 kali operasi telah mereka alami, 58 kemotrapi telah mereka lakukan, dan beribu maupun berjuta obat telah mereka telan.
Satu minggu kemudian…
Mereka tiba di tanah air,,,
Dengan senyuman gembira yang mereka bawa dari sana. Serta sapaan hangat mengiringi kedatangan mereka. Keadaan mereka makin membaik.
5 bulan 2 minggu 3 hari mereka merasa tubuh makin melemah dan pandangan mata semakin tak jelas lagi. Segeralah mereka di bawa ke rumah sakit. Suara mobil ambulan mulai terdengar di sekitar rumah mereka.
Sampai di rumah sakit,,,
Mereka akan mengalami perawatan yang cukup serius.
Sapaan kawan, ”Ucapkanlah senandung hatimu, sebab kawanmu ini tak sanggup untuk membaca dan mengartikan semua rasamu.”
Kata hati mereka, “Nyanyikanlah kawan satu kata yang kau berikan, agar ku bisa dengarkan bisikan hatimu untuk ragaku ini.”
Bisikan kawan, “Lihatlah awan di sana memandangi jeritanmu, pasti dia pun juga tau, ingin kau lewati lembah hidup yang penuh tangis sedih. Namun, semua ini harus kau jalani.”
Jawab hati mereka, “Sebuah kisah yang terjadi, ku ikuti atas kata hati. Tuhan pasti akan mengerti, segala yang terjadi hidup ini.
Jawab kawan, “Aku yakin ini hanya sementara untuk kau, aku percaya ini hanya kiasan mimpi kau, dan kau sebentar lagi juga akan terbangun. Tersenyumlah kau,,, karena senyumanmu adalah kehidupanmu.
Jawab kedipan mereka, “Aku hanya yakin akan takdir yang terjadi pada diriku. Demi

To Be Continue...

date Senin, 19 April 2010

0 komentar to “ArTi HidUp DaRi KaWan”

Leave a Reply: